Yeni Adien dot com } Perempuan kelahiran Kema, kota pelabuhan kecil di Sulawesi Utara pada 1 Desember 1872 ini
ditetapkan sebagai pahlawan nasional sesuai SK Presiden RI No. 012/TK/Tahun 1969. Ia bertekad untuk memajukan wanita dengan rumah tangga dan mendidik anak.
Ia sudah menjadi yatim piatu saat usia 6 tahun. Sejak itu, ia ikut pamannya di Airmadidi. Maria hanya sekolah sampai SD di kota kecil itu. Cita-citanya tumbuh subur ketika menikah dengan seorang guru HIS Manado pada 1890.
Suaminya bernama Yoseph Frederik Calusung Walanda membantu mendirikan organisasi Percintaan Ibu Kepada Anak Turunannya (PIKAT) pada Juli 1917. Dalam waktu singkat berdiri cabang-cabang PIKAT di Sangir Takaut, Gorontalo, Poso, Ujung Pandang hingga pulau Jawa, di antaranya Jakarta, Bogor, Malang, Magelang, dan lain-lain.
Ia sempat mendapat halangan berupa biaya, tapi semuanya bisa dilalui secara bertahap. Dia meninggal pada 1924 di Maumbi, Sulawesi Utara.
Ini kisah tentang Maria Walanda Maramis, tokoh perempuan Minahasa, Sulawesi Utara. Masa edar dan pola pergerakannya untuk kepentingan kaum hawa nyaris persis dengan R.A. Kartini yang kadung melegenda itu.
Perjuangan Maria bahkan boleh dibilang berada pada level yang lebih masif karena, dan terutama, usia hidupnya lebih lama dari Kartini yang wafat di usia muda. Meskipun begitu, Maria mengakui bahwa Kartini adalah sosok yang sangat memberinya inspirasi.
Mendorong Kesadaran Kaum Hawa Pada 1890, atau ketika usianya baru 18 tahun, Maria menikah dengan seorang guru sekolah dasar di Manado bernama Yoseph Frederik Calusung Walanda. Sejak itulah Maria menyertakan nama belakang suaminya sehingga ia lebih dikenal sebagai Maria Walanda Maramis, dan merintis cita-citanya untuk memajukan kaum perempuan. Setelah menikah, Maria mengikuti suaminya tinggal di Manado. Ia mulai mengutarakan isi pikirannya melalui tulisan yang dikirimkan ke surat kabar Tjahaja Siang, pionir surat kabar di Sulawesi Utara. Dalam tulisan-tulisannya, ia memaparkan pentingnya kaum perempuan memperoleh pendidikan yang lebih baik sehingga nantinya bisa berperan menjadi istri sekaligus ibu yang lebih baik pula untuk keluarga. M. Junaedi Al Anshori dalam Sejarah Nasional Indonesia: Masa Prasejarah Sampai Masa Proklamasi Kemerdekaan (2011: 108) mencatat, pada 8 Juli 1917, saat usia Maria mencapai 45 tahun, ia dan beberapa rekannya mendirikan organisasi yang diberi nama Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunnya atau disingkat PIKAT. Pendirian PIKAT dibantu sang suami dan beberapa tokoh cendekiawan lainnya. PIKAT mulanya hanya merupakan forum untuk saling berbagi untuk mendiskusikan berbagai persoalan tentang pendidikan anak. Namun kemudian timbul gagasan yang lebih luas dari Maria terkait misi dan tujuan PIKAT, yaitu sebagai wadah untuk memajukan kaum perempuan di Minahasa. Kemunculan PIKAT mendorong kesadaran kaum perempuan di Minahasa dan Sulawesi pada umumnya untuk berorganisasi. Setelah tahun 1920, sebagaimana dicatat G.A. Ohorella dan kawan-kawan dalam Peranan Wanita Indonesia dalam Masa Pergerakan Nasional (1992: 8), jumlah perkumpulan perempuan semakin banyak. Selain itu organisasi politik memberikan perhatian lebih dengan menyokong dibentuknya sayap perempuan. PIKAT yang digagas oleh Maria berkembang pesat, punya banyak cabang hingga ke Kalimantan dan Jawa. PIKAT mendirikan sekolah bagi anak-anak perempuan bernama Huishound School Pikat dan tidak dipungut bayaran. Maria juga membuka Sekolah Kejuruan Putri lengkap dengan asramanya.
Baca selengkapnya di artikel "Maria Walanda Maramis: Dia yang Melampaui dan Mengagumi Kartini", https://tirto.id/cnb9






Tidak ada komentar:
Posting Komentar