Yeni Adien dot com } Lahir dari keluarga miskin dan banyak utang, membuat anak kelima dari enam bersaudara ini harus menjadi tulang punggung keluarga sejak masih SMP.
Ayahnya adalah seorang Purnawirawan Polri berpangkat rendah, sementara ibunya hanya seorang penjahit yang juga membuka usaha kelontong kecil-kecilan.
Semasa sekolah, dia kerap membantu ibunya berjualan bensin eceran di depan toko. Dia dan saudaranya kerap diejek dan hampir putus kuliah saking sulitnya kehidupan yang dia lalui saat itu. Sang Ibu pun diketahui pernah menjual anting-anting demi mencukupi kebutuhan hidup anak-anaknya.
Meskipun menjalani masa muda yang sulit karena tidak hidup dalam kemewahan, dia mengaku bangga terlahir sebagai anak dari orang tuanya.
Dia mengungkapkan belajar kemandirian, ketulusan, dan kasih sayang dari Sang Ibu. Sementara Sang Ayah mengajarkannya menjadi pribadi yang disiplin
Setelah lulus kuliah dan memiliki penghasilan sendiri, dia dan kelima saudaranya yang lain mulai sepakat menyicil utang orang tua mereka dengan mengumpulkan iuran Rp50.000 per bulan.
Seiring dengan karier dan penghasilan yang terus meningkat, iuran untuk melunasi utang orang tuanya ditambah hingga akhirnya terbayar lunas.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar